4 Tantangan Mahasiswa Dalam Mengawal Pemilu
|
Kota Serang, Badan Pengawas Pemilihan Umum Kota Serang – Setidaknya terdapat empat tantangan yang dihadapi mahasiswa dalam perannya untuk mengawal kualitas demokrasi. Pertama, adanya polarisasi politik di media sosial. Yang sering membentuk echo chamber yang membuat mahasiswa hanya menerima informasi sejalan dengan pandangannya. Akibatnya, ruang diskusi demokratis berubah menjadi konflik identitas dan fanatisme politik. Kedua, rendahnya literasi politik pemilih muda. Sebagian pemilih muda masih mudah terpengaruh popularitas, tren digital, dan propaganda politik karena rendahnya kemampuan memahami isu, memverifikasi informasi, serta menilai program kandidat secara kritis.
Ketiga, sikap pragmatisme dan disinformasi digital. Praktik buzzer, hoaks, propaganda, dan manipulasi opini publik melalui media digital menjadi tantangan serius yang dapat memengaruhi independensi dan rasionalitas pilihan politik mahasiswa. Dan keempat, tantangan terbesar mahasiswa dalam pemilu adalah menjaga sikap kritis, objektif, dan independensi di tengah polarisasi politik.
Demikian disampaikan Ketua Bawaslu Kota Serang Agus Aan Hermawan, Rabu (13/5/2026), ketika menggelar diskusi konsolidasi demokrasi bersama pengurus DEMA UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten. Hadir pada kesempatan tersebut, Ketua DEMA UIN SMH Banten Muhamad Syahid dan empat orang pengurus, serta para Anggota Bawaslu Kota Serang.
“Karena itu mahasiswa berperan untuk menopang pendidikan politik, seperti memberikan literasi politik kepada masyarakat dan pemilih pemula, serta melawan hoaks, politik uang, dan ujaran kebencian. Mahasiswa juga harus menjadi bagian dari pengawasan partisipatif untuk dapat mengawal tahapan pemilu secara independen sekaligus melaporkan pelanggaran yang terjadi,” kata Agus Aan.
Agus menerangkan, sebagai agen perubahan sosial, mahasiswa juga harus mendorong agar prinsip pelaksanaan pemilu, langsung, umum, bebas, jujur, dan adil, dapat terjadi dengan segala dinamikanya. Mahasiswa, kata Agus, juga harus berpartisipasi dalam hal kepemiluan dengan cara menggunakan hak pilih secara rasional dan bertanggung jawab, serta terlibat dalam setiap diskursus publik serta gerakan masyarakat sipil.
Ketua DEMA UIN SMH Banten Muhamad Syahid menyambut baik dan mendukung penuh langkah Bawaslu dalam menginisiasi konsolidasi demokrasi di luar tahapan pemilu dan menjadi wadah edukasi politik paraktis bagi mahasiswa. Kegiatan konsolidasi demokrasi ini dinilai sangat strategis bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, memperdalam ilmu politik, dan memahami regulasi pengawasan pemilu.
“Kami mendorong agar Bawaslu lebih tegas dalam melakukan pengawasan di tengah masyarakat. Saat pemilihan tahun 2024 lalu, kita saksikan bagaimana banyak pelanggaran yang terjadi di sejumlah daerah di Provinsi Banten. Dan hasil temuan itu hanya ditindak dengan teguran biasa. Kami berharap, Bawaslu ke depan lebih tegas dan tanggap dalam pengawasan di tengah masyarakat mengenai politik uang,” kata Syahid.
Penulis : Fierly
Foto : Rara